ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH (Allium Cepa L.) Di Kabupaten Tulungagung
Abstract
Abstract
The purpose of this study is to measure the profitability of shallot farming financially and economically, to assess the competitiveness of shallot commodities against competitive advantage and comparative advantage. The research method used is using a comparative advantage approach and competitive advantage. Comparative advantage can be analyzed using the Domestic Resource Cost Ratio (DCRC) approach. The DCRC value can be obtained using the PAM (Policy Analysis Matrix) analysis method. Determination of the sample area is done by using multistage sampling based on the broadest sub-districts and commodity producing villages, namely Sumbergempol and Rejotangan Districts. The results showed that the yield of red onion farming calculated using the actual price received by farmers showed that the average income received was 220,000,000 while the expenditure was 49,560,000 and the profit earned was 170,420,000. Based on the results of the PAM analysis shows that financially and economically, onion farming in Tulungagung Regency is able to provide benefits. Based on the results of PAM analysis, it shows that financially and economically, onion farming in Tulungagung District has a competitive advantage and comparative advantage. R/C ratio shows that financially every rupiah the sacrificed farming costs can produce a profit of 3.44 rupiah per hectare of land.
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat keuntungan usahatani bawang merah secara finansial dan ekonomi, untuk mengkaji daya saing komoditas bawang merah terhadap keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif. Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan pendekatan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Keunggulan komparatif dapat dianalisis dengan pendekatan Domestic Resource Cost Ratio (DCRC). Nilai DCRC dapat diperoleh menggunakan metode analisis PAM (Policy Analysis Matrix) Penentuan daerah sampel dilakukan dengan cara menggunakan multistage sampling berdasarkan kecamatan dan desa penghasil komoditas bawang merah yang terluas yaitu Kecamatan Sumbergempol dan Kecamatan Rejotangan.Hasil penelitian menunjukkan hasil keuntungan usaha tani bawang merah yang dihitung dengan menggunakan harga aktual yang diterima oleh petani menunjukkan, bahwa rata-rata penerimaan yang diterima sebesar 220.000.000 sedangkan pengeluaran sebesar 49.560.000 dan keuntungan yang diperoleh adalah 170.420.000. Berdasarkan hasil analisis PAM menunjukkan bahwa secara finansial maupun ekonomis usahatani bawang merah di Kabupaten Tulungagung mampu memberikan keuntungan. Berdasarkan hasil analisis PAM menunjukkan bahwa secara finansial maupun ekonomis usahatani bawang merah di Kabupaten Tulungagung memiliki keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif. R/C rasio menunjukkan bahwa secara finansial setiap rupiah biaya usahatani yang dikorbankan mampu menghasilkan keuntungan sebesar 3,44 rupiah per hektar lahan.
Downloads
References
Adiyoga, W. dan T.A. Soetiarso (1997), Keunggulan Komparatif dan Insentif Ekonomi Usahatani Bawang Merah, Jurnal Hortikultura, Volume 7, no. 7, Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang, Bandung.
Asih, D.N. 2009. Analisis Karakteristik dan Tingkat Pendapatan Usahatani Bawang Merah di Sulawesi Tengah. Journal Agroland, 16(1), 53-59
Asmara, R. dan Ardhiani, R. 2010. Integrasi Pasar Dalam Sistem Pemasaran Bawang Merah. AGRISE, 10(3), 164-176
BPS. 2017. Kabupaten Tulungagung Dalam Angka 2017. http://tulungagungkab.bps.go.id. Diakses 19 Juni 2018
Brewster JL. 1994. Onion and Other Vegetable Alliums. Wallingford (UK): CAB International
Deptan (2005), Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Bawang Merah, Departemen Pertanian, Jakarta .
Hidayat. 2004. Budidaya Bawang Merah, Bawang Putih, Bawang Bombay. Kanisius. Yogyakarta
Ismawati, E.M. 2007. Pupuk Organik. Penebar Swadaya. Jakarta
Mayrowani, H. dan Darwis, V. 2010. Perspektif Pemasaran Bawang Merah di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Di dalam : Suradisastra K, Simatupang P, Hutabarat B. Editor. Prosiding Seminar Nasional Peningkatan Daya Saing Agribisnis Berorientasi Kesejahteraan Petani; 2009 Okt 14; Bogor, Indonesia. Bogor (ID): PSEKP. 164-176
Monke, E.A., dan S.R. Pearson, S.R. (1998), The Polyce Analisis Matrix for Agricultural Development, Cornell University Press, New York (US)
Nurasa, T. dan Darwis,V.2007.Analisis Usahatani Keragaan Marjin Pemasaran Bawang Merah di Kabupaten Brebes. Jurnal Akta Agrosia 10(1),40-48
Rahayu, E. dan B.V.A. Nur. 2007. Bawang Merah. Penebar Swadaya. Jakarta
Republik Indonesia. 2017. Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 27 Tahun 2017 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen. Sekretariat Negara. Jakarta
Rukmana, R. 2002. Bawang Merah Budidaya dan Pengolahan Pasca Panen. Kanisius. Yogyakarta
Samadi, B. dan Cahyono, B. 2005. Bawang Merah Intensifikasi Usaha Tani. Kanisius. Yogyakarta
Sartono. 2009. Bawang Merah, Bawang Putih, Bawang Bombay. Intimedia Ciptanusantara. Jakarta Timur
Sarwono, H 2007. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta
Sayaka, B. dan Supriatna, B. 2010. Kemitraan Pemasaran Bawang Merah di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah: kasus PT Indofood Sukses Makmur. Di dalam: Suradisastra K, Simatupang P, Hutabarat B. Editor. Prosiding Seminar Nasional Peningkatan Daya Saing Agribisnis Berorientasi Kesejahteraan Petani; 2009 Okt 14; Bogor, Indonesia. Bogor (ID): PSEKP. 187-201
Sinambela, L.P. 2014. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Graha Ilmu. Yogyakarta
Sumadi. 2003. Intensifikasi Budidaya Bawang Merah. Kanisius. Yogyakarta
Sunarjono, H. 2003. Bertanam 30 Jenis Sayur. Penebar Swadaya. Jakarta
Suriani, N. 2011. Bawang Bawa Untung, Budidaya Bawang Merah dan Bawang Merah. Cahaya Atma Pustaka. Yogyakarta
Wibowo, S. 2007. Budidaya Bawang Merah. Penebar Swadaya. Jakarta
Wibowo, S. 2005. Budidaya Bawang Putih, Merah dan Bombay. Penebar Swadaya. Jakarta
Winarso, B. 2003. Dinamika Perkembangan Harga: Hubungannya Dengan Tingkat Keterpaduan Antar Pasar Dalam Menciptakan Efisiensi Pemasaran Komoditas Bawang Merah. Jurnal Ilmiah Kesatuan 4(1), 7-16